METODE DAN
CORAK TAFSI><R AL-QUR’A<N AL-‘ADHI<M
KARYA IBUN
KATHI<R
By: Muhammad
A-
PENDAHULUAN
Mengkaji al-Qur’a>n memang
tidak akan ada habisnya, melihat al-Qur’a>n bisa ditarik ulur di mana lokasi
dan kapanpun waktunya. Oleh karena itu, mempelajari al-Qur’a>n tidak akan
ada bosan-bosannya hingga akhir zaman. Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa
dari kali perama al-Qur’a>n diturunkan pada Muhammad saw penjelasan (tafsir)
al-Qur’a>n sudah mulai bermunculan kendatipun pada saat itu hanya Muhammad
saw yang mempunyai wewenang dalam menjelaskan isi al-Qur’a>n itu.
Setelah Muhammad saw wafat
turunlah pada masa sahabat, ta>bi’i>n, dan ta>bi’ ta>bi’i>n yang
berusaha untuk mengartikan dan menjelaskan al-Qur’a>n pada semua umat Islam.
Dari sini mulai bermunculan perbedaan argumentasi tafsir. Salah satu tokoh
tafsir yang terkenal ialah Isma>il bin ‘Umar yang dikenal dengan julukan
Ibnu Kathi>r. Kitab Tafsir karya Ibnu Kathi>r bisa dikatakan sebagai
rujukan para mufassir setelahnya. Oleh karena itu, pemakalah menganggap penting
untuk mengkaji tafsir tersebut.
Pada pertemuan kalin ini
pemakalah akan menfokuskan kajian pada biografi, sestematikan, dan
kecenderungan dalam penafsiran Ibnu Kathi>r yang disertai dengan
concoh-contoh akurat dan setelah melalui peroses penelitian yang sangat
mendalam.
B-
TAFSI<R AL-QUR’A<N AL-‘ADHI><M
1-
Riwayat Hidup dan Aktifitas Keilmuan Penulis Tafsi>r
al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
Nama lengkapnya adalah ‘Ima>duddin Abul Fida>’
Isma>i>l bin ‘Umar bin Kathi>r al-Qurashi> al-Bus}rawi>
al-Dimashqi> al-Shafi’i> lebih dikenal dengan nama Ibnu Kathi>r. Ia
lahir pada tahun 701 H di desa Majdal yang menjadi bagian dari kota Bas}rah.
Pada usia 4 tahun, ayahnya meninggal sehingga kemudian Ibnu Kathi>r diasuh oleh
pamannya. Pada tahun 706 H, ia pindah dan menetap di kota Damaskus bersama
saudaranya yang bernama Abdulwahhab.[1]
Semenjak kecil Ibu Kathi>r
disibukkan mencari ilmu. Ia tumbuh besar dengan mencintai al-Qur’a>n dan
tafsir, menghafal hadi>th, mengetahui matan dan sanadnya, sejarah dan
riwayatnya, fikih dan hukum-hukumnya, sejarah kehidupan Nabi Muhammad dan
fenomena-fenomena yang terjadi pada saat itu, nah}wu, dan ilmu-ilmu lainnya.
Oleh karena itu, tidak heran jika Ibnu Kathi>r sudah hafal al-Qur’a>n di
usia 11 tahun pada gurunya yang bernama Ibu Ghaila>n.[2]
Ibn Kathi>r tumbuh besar di
kota Damaskus. Di sana, ia banyak menimba ilmu dari para ulama di kota
tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Ia juga
menimba ilmu dari Isa bin Mut}’im, Ibnu Asha>kir, Ibn Shaira>zi, Ish}aq
bin Yah}ya bin al-Amidi, Ibnu Zarra>d, al-H{afizh al-Dhahabi> serta Ibnu
Taimiyah. Selain itu, ia juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki
al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian
menikahkan Ibnu Katsir dengan putrinya yang bernama Zainab. Selain
Damaskus, ia juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.
Ibu Kathi>r memiliki banyak
karya tulis ilmiyah, di antara karya tulisnya yang sampai saat ini bisa kita
nikmati ialah:
a.
Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
b.
Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Buku ini membahas tentang sejarah. Buku ini sering
dijadikan rujukan para peneliti sejarah. Sumbernya begitu autentik. Karyanya
ini berisikan berbagai tinjauan sejarah. Pertama, pemaparan tentang sejarah dan
kisah nabi-nabi beserta umatnya di masa lalu. Kisah ini ditopang dengan
dalil-dalil yang kuat, baik itu dari al-Qur’a>n maupun al-Hadi>th, juga
pendapat-pendapat para mufassir, muhaddits dan sejarawan. Kedua, Ia menguraikan
secara jelas mengenai bangsa Arab jaman jahiliyah, kemudian bangsa Arab ketika
kedatangan Nabi dan perjalanan dakwah Nabi beserta para sahabatnya. Buku ini di
akhiri dengan kisah Dazzal, juga ia ungkapkan mengenai tanda-tanda kiamat
lainnya.
c.
Al-Takmi>l fi> Ma’rifah al-Thiqa>t wa
al-D{u’afa>’ wa al-Maja>hi>l. Buku ini adalah rujukan dalam ilmu hadist serta untuk mengetahui jarh}
wa ta’dil.
d.
Al-Si>rah al-Nabawiyah.
e.
Al-Musnad al-Shaikhain Abi> Bakar wa Umar.
f.
Shama>il al-Rasu>l wa Dala>il Nubuwwatih wa
Fadha>ilih wa Khas}a>is}ih (di nukil dari kitab al-Bida>yah wa al-Niha>yah)
g.
Sharh} al-Bukha>ri> (tidak selesai)
h.
Khtis}a>r ‘Ulu>m al-H{adi>th li Ibn al-S}ala>h.
i.
Risa>lah al-Jiha>d.
j.
Mana>qib al-Sha>fi’i>.
Genap usia tujuh
puluh empat tahun akhirnya ulama ini wafat, tepatnya pada hari Kamis, 26
Sya’ban 774 H. Ia di makamkan di pemakaman s}ufiyah Damaskus, di sisi makam
gurunya Ibnu Taimiyah.
2-
Gambaran Umum Kitab Tafsi>r al-Qur’a>n
al-‘Adhi>m
Tafsir Ibnu Kathi>r
termasuk salah satu kitab tafsir ternama, sebab tidak jarang dari para mufassir
yang datang setelah masa Ibnu Kathi>r menjadikan kitab ini sebagai bahan
primer dalam pembuat tafsirnya. Lebih dari itu, ‘I<d Khid}ir Muhammad
Khid}ir komentar tentang tasfir Ibnu
Kathi>r ini dengan
perkataannya:[3]
وتفسير ابن كثير من
أصح التفاسير عن النبى صلى الله عليه وسلم والصحابة والتابعين حيث يسرد
الأيات التى وردت فى معنى هذه الأية ويذكر
الأحاديث وأقوال التابعين التى وردت فى معنى الأية.
“Tafsir Ibnu Kathi>r merupakan
paling sah}ih}nya kitab-kitab tafsir dari Nabi Muhammad, sahabat, dan para
tabi’in, sebab (dalam kitab ini) menyebutkan beberapa ayat yang bersangkutan
maknanya dengan ayat yang ditafsirkannya serta mencantumkan
hadi>th-hadi>th, perkataan sahabat dan tabi’in yang ada hubungan dengan
ayat yang ditafsirkannya.”
Sebelum Ibnu Kathi>r
menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n, ia terlebih dahulu menjelaskan pentingnya
belajar dan mengajar makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’a>n:[4]
فالواجب على العلماء الكشف عن
معاني كلام الله، وتفسير ذلك، وطلبه من مظانه، وتَعلُّم ذلك وتعليمه، كما قال
تعالى: { وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ
وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ } [آل عمران: 187] ،
وقال تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ
ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ لا خَلاقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ وَلا يُكَلِّمُهُمُ
اللَّهُ وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ } [آل عمران: 77] .
فذم الله تعالى أهل الكتاب قبلنا
بإعراضهم عن كتاب الله إليهم، وإقبالهم على الدنيا وجمعها، واشتغالهم بغير ما
أمروا به من اتباع كتاب الله. فعلينا -أيها المسلمون-أن ننتهي عما ذمَّهم الله
تعالى به، وأن نأتمر بما أمرنا به، من تَعَلُّم كتاب الله المنزل إلينا وتعليمه،
وتفهمه وتفهيمه، قال الله تعالى: { أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ
تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نزلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا
كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ
قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ * اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي
الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
} [الحديد: 16، 17]
“ Merupakan sebuah kewajiban bagi
ulama untuk menjelaskan makna-makna firman Allah, menafsirinya, mempelajari dan
mengarkannya, sebagaiman firman Allah (Dan ingatlah, ketika Allah Mengambil
janji dari orang-orang yang telah diberi kitab yaitu, ‘Handaklah kamu
benar-benar menerangkannya kepada manusia, dan janganlah kamu menymbunuikannya,
lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan
harga murah. Maka itu seburuk-buruk jual beli yang mereka lakukan.[5])
Dan firman Allah (Sesungguhnya orang-orang yang memperjual belikan janji Allah
dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian
di akhirat, Allah tidak akan menyapa merekam tidak akan memperhatikan mereka
pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang
pedih.[6])
Oleh karena itu, Allah menghina umat ahli kitab terdahulu yang menolak kitab
Allah, lebih memilih dunia dan mengumpulkan dunia serta menyibukkan diri
terhadap sesuatu yang tidak diperintahkan daripada yang diperintahkan Allah.
Maka diwajibkan bagi kita sebagai orang-orang Islam untuk mengakhiri hinaan
dari Allah dengan cara mengikuti perintah yang telah diperintahkannya seperti
mempelajari kitab Allah yang telah diturunknan pada kita dan mengajarkannya,
memahaminya dan memberikan pemahaman tentangnya.”
Setelah menjelaskan pentingnya
belajar dan mengajarkan tafsir al-Qur’a>n. Ibnu
Kathi>r menerangkkan sumber penafsiran al-Qur’a>n yang paling baik. Ia
berkata:[7]
فإن قال قائل: فما أحسن طرق
التفسير؟فالجواب: إن أصح الطرق في ذلك أن يُفَسَّر القرآن بالقرآن، فما أُجْمِل في
مكان فإنه قد فُسِّر في موضع آخر، فإن أعياك ذلك فعليك بالسنة فإنها شارحة للقرآن
وموضحة له، بل قد قال الإمام أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعي، رحمه الله: كل
ما حكم به رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو مما فهمه من القرآن. قال الله تعالى:
{ إِنَّا أَنزلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ
بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا } [ النساء: 105]
“Jika ada yang bertanya: ‘Apakah
sumber penafsiran al-Qur’a>n yang paling baik?’ Maka jawabnya: ‘Paling
baiknya sumber penafsiran ialah menafsirkan al-Qur’a>n dengan al-Qur’a>n,
karena terkadang dalam satu ayat menjelaskan secara global, namun pada ayat
lain menjelaskan secara detail. Jika hal merasa kesulitan dengan hal demikian,
maka bagi mufassir hal menafsirkan dengan hadi>th Nabi Muhammad, sebab
hadi>th Nabi Muhammad menjelaskan al-Qur’a>n. Bahkan Abu> Abdullah
Muhammad bin Idri>s al-Shafi’I berkarta: setiap sesuatu yang ditetapkan oleh
Nabi Muhammad merupakan pemahaman dari al-Qur’a>n. Allah berfirman (Sungguh,
Kami telah Menurunkan Kitab kepadamu membawa kebenaran, agar engkau mengadili
antara manusia dengan apa yang telah Diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah
engkau menjadi penentang orang yang tidak bersalah, karena membela orang yang
berkhianat.[8]).”
3-
Sistematika dan Metode Tafsi>r al-Qur’a>n
al-‘Adhi>m
a.
Sistematika
Sebelum memulai menafsirkan masing-masing ayat di dalam
suatu surat, Ibnu Kathi>r memulainya dengan pengklasifikasian surat,
apakah ia makkiyah atau madaniyah. Ini dapat dilihat pada contoh berikut:[9]
تفسير سورة إبراهيم عليه السلام وهي مكية.
“Tafsir surah Ibrahim, ayat ini makkiyah.”
Setelah menjelaskan makky dan madani, Ibnu Kathi>r mulai
mencantumkan fadilah surat yang berdasarkan dari hadi>th, jika memang ada
hadi>th yang menjelaskannya seperti:[10]
الليث الهمداني قالا حدثنا موسى بن
مسعود، حدثنا عبد الرحمن بن أبي بكر المليكي، عن زرارة بن مصعب، عن أبي سلمة، عن
أبي هُرَيرة، رضي الله عنه، قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: "من قرأ
آية الكرسي وأول حم المؤمن، عُصِم ذلك اليوم من كل سوء".
Setelah itu, barulah Ibnu Kathi>r mencantumkan ayat-ayat yang hendak
ditafsirkannya, baik penafsiran tersebut melalui ayat-ayat al-Qur’a>n,
hadi>th Nabi, atau riwayat-riwayat dari para sahabat dan tabi’in. sebagai
contaoh saat penafsirkan surah Ibramin ayat 4:[11]
(وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ
رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ
يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)
هذا من لطفه تعالى بخلقه: أنه يرسل إليهم
رسلا منهم بلغاتهم ليفهموا عنهم ما يريدون
وما أرسلوا به إليهم، كما قال الإمام أحمد: حدثنا وكيع، عن عمر بن ذر قال: قال
مجاهد: عن أبي ذر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "لم يبعث الله، عز
وجل، نبيا إلا بلغة قومه".
Tidak lupa dalam penafsirannya
mencantumkan sebab turunnya ayat tersebut jika memang ada, sebab Ibnu
Kathi>r termasuk salah satu tokoh tafsir yang menganggap sebab turunnya ayat
merupakan hal yang penting dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n. Sebagai contoh:[12]
قال السدي: إن أناسا من قريش
اجتمعوا فيهم: أبو جهل بن هشام والعاص بن وائل، والأسود بن المطلب والأسود بن عبد
يغوث في نفر من مشيخة قريش، فقال بعضهم لبعض: انطلقوا بنا إلى أبي طالب فلنكلمه
فيه، فلينصفنا منه فليكف عن شتم آلهتنا وندعه وإلهه الذي يعبده...
b.
Metode
Beberapa hal penting untuk dicermati dalam mengenal sebuah karya tafsir
yaitu, metode dan kecenderungan/aliran. Dalam hal metode sebuah katib tafsir
dapat dilihat dari beberapa aspek yang meliputi sumber penafsiran, cara
penjelasan, keluasan penafsiran, dan sasaran serta
tartib ayat. Sementara kecenderungan sebuah kitab tafsir dapat dilihat dari
arah yang menjadi tendensi mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n.[13] dengan beberapa variable
tersebut Tafsi>r Ibnu Kathi>r akan diindentifikasikan.
1)
Sumber Penafsiran
Dari
mukadimah kitab Ibnu Kathi>r yang telah pemakalah sajikan di atas, kita bisa
mengetahui bahwa sumber penafsiran yang digunakan oleh Ibnu Kathi>r ada 3
macam. Pertama memafsirkan ayat al-Qur’a>n dengan ayat
al-Qur’a>n yang lain. Sebagai contoh firman Allah surah al-Baqarah ayat 6:[14]
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ
تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ
يقول تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا } أي: غَطوا
الحق وستروه، وقد كتب الله تعالى عليهم ذلك، سواء عليهم إنذارك وعدمه، فإنهم لا
يؤمنون بما جئتهم به، كما قال تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ
كَلِمَةُ رَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ * وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا
الْعَذَابَ الألِيمَ } [يونس: 96، 97] وقال في حق المعاندين من أهل الكتاب: {
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا
قِبْلَتَكَ }{ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ } [الرعد:
40]، و { إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ }[هود:
12].
Kedua
menafsrikan al-Qur’a>n dengan hadi>th Nabi Muhammad. Seperti contoh
firman Allah surah al-Baqarah ayat 143.[15]
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
قال الإمام أحمد أيضًا: حدثنا أبو معاوية، حدثنا
الأعمش، عن أبي صالح، عن أبي سعيد الخدري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
"يجيء النبي يوم القيامة ومعه الرجل والنبي ومعه الرجلان وأكثر من ذلك فيدعى
قومه، فيقال لهم هل بلغكم هذا؟ فيقولون:
لا. فيقال له: هل بلغت قومك؟ فيقول: نعم. فيقال له من يشهد لك؟ فيقول: محمد وأمته
فيدعى بمحمد وأمته، فيقال لهم: هل بلغ هذا قومه؟ فيقولون: نعم. فيقال: وما علمكم؟
فيقولون: جاءنا نبينا صلى الله عليه وسلم فأخبرنا أن الرسل قد بلغوا" فذلك
قوله عز وجل: { وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا } قال: "عدل.
Ketiga menafsirkan ayat
al-Qur’a>n dengan menggunakan al-Atha>r (perkataan sabahat atau
tabi’in). Seperti contoh firman Allah surah al-Baqarah ayat 16.[16]
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ
بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
قال السدي في تفسيره، عن أبي مالك وعن أبي صالح، عن
ابن عباس، وعن مُرّة، عن ابن مسعود، وعن ناس من الصحابة: { أُولَئِكَ الَّذِينَ
اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى } قال: أخذوا الضلالة وتركوا الهدى.
Dari
paparan dan ulasan di atas, maka pemakalah bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa
sember penafsiran yang digunakan oleh Ibnu Kathi>r dalam kitabnya Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m adalah al-Tafsi>r bi al-Ma’thu>r pendapat
ini pemakalah ini juga senada dengan
mayoritas pengamat tafsir. Namun hal ini tidak menafikan sebagain tokoh yang
menyatakan bahwa kitab ini tidak termasuk al-Tafsi>r bi al-Ma’thu>r.
2)
Cara Penjelasan
Ada 2 maca
metode dalam penjelasan. Pertama, metode baya>ni>,
penafsiran dengan memberikan keterangan secara deskriptif, tanpa membandingkan
riwayat atau pendapat dengan tanpa men-tarji>h} antara sumbur. Kedua,
metode muqa>rin, membandingkan ayat dengan ayat yang berbicara dalam
masalah yang sama, ayat dengan hadi>th, pendapat mufassir dengan mufassir
lain, dengan menonjolkan segi-segi perbedaan.[17] Dari sisi ini, penafsiran
Ibnu Kathi>r masuk dalam katagori metode komparasi kendati tidak semuanya ia
tarji>h}, semisal pada surah al-Nisa>’ 43
أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ
واختلف المفسرون والأئمة في معنى ذلك، على قولين:
أحدهما: "أن ذلك كناية عن
الجماع؛ لقوله { وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ
فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ } [البقرة: 237] وقال
تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ
طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ
عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا } [الأحزاب: 49].
قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو سعيد
الأشج، حدثنا وَكِيع، عن سفيان، عن أبي إسحاق، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس في
قوله: { أَوْ لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ } قال: الجماع. ورُوي عن علي، وأبيّ بن كعب،
ومجاهد، وطاوس، والحسن، وعُبَيد بن عمير، وسعيد بن جبير، والشَّعْبي، وقتادة،
ومقاتل بن حيَّان -نحوُ ذلك.
وقال آخرون: عنى الله بذلك كل لمس
بيد كان أو بغيرها من أعضاء الإنسان، وأوجب الوضوء على كل من مس بشيء من جسده شيئا
من جسدها مفضيًا إليه. وقد رواه من طرق متعددة عن ابن مسعود بمثله. وروي من حديث
الأعمش، عن إبراهيم، عن أبي عبيدة، عن عبد الله بن مسعود قال: القبلة من المس،
وفيها الوضوء.
وقال: حدثني يونس، أخبرنا ابن وهب،
أخبرني عُبَيد الله بن عمر، عن نافع: أن ابن عمر كان يتوضأ من قبلة المرأة، ويرى
(2) فيها الوضوء، ويقول: هي من اللماس.
وروى ابن أبي حاتم وابن جرير أيضا
من طريق شعبة، عن مخارق، عن طارق، عن عبد الله قال: اللمس ما دون الجماع.
ثم قال ابن أبي حاتم: ورُوي عن ابن
عمر، وعبيدة، وأبي عثمان النَّهْدي وأبي عبيدة -يعني ابن عبد الله بن مسعود-وعامر
الشَّعْبي، وثابت بن الحجَّاج، وإبراهيم النَّخَعي، وزيد بن أسلم نحو ذلك.
قلت: وروى مالك، عن الزهري، عن سالم بن عبد الله بن عمر، عن أبيه أنه كان
يقول: قبلة الرجل امرأته وجَسَّه بيده من الملامسة، فمن قَبّل امرأته أو جسها
بيده، فعليه الوضوء.[18]
3)
Sasaran dan Tartib Ayat yang Ditafsirkan
Ada
tiga pilihan metode bagi seorang mufassir untuk menyajikan penafsiran terhadap
ayat-ayat al-Qur’a>n. Pertama, metode tah}lili>,
menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n secara urut dan tertib sebagaimana dalam
mus}h}af. Kedua, metode nuzuli> menafsirkan ayat-ayat
al-Qur’a>n secara urut dan tertib sesuai dengan urutan turunnya ayat
al-Qur’a>n. Ketiga, dengan metode maud}u’i>.[19] Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m dari sisi ini, menafsirkan al-Qur’a>n secara
berurutan dari awal surah al-Fatih}ah hingga akhir surah al-Na>s. Keyataan
ini , mengkatagorikan metode yang digunakan Ibnu Kathi>r adalah metode tah}lili>.
4)
Keluasan Penjelasan
Buku-buku
tafsir yang telah ditulis oleh para ulama sangat beragam dalam sudut keluasan
penafsirannya. Ada yang pembahasan tafsirnya panjang lebar (tafs}i>li>)
ada yang ringkas (ijma>li>). Adapun kitab Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m tergolong dalam katagori tafsir dengan metode tafs}i>li.
4-
Kecenderungan Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
Setiap
mufassir memiliki sentuhan berbeda dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’a>n.
Sentuhan-sentuhan berbeda akan berdampak pada produk-produk penafsirannya.
Sehingga pembaca karya tafsir akan merasakan aroma kecenderungan mufassir dalam
karya tafsirnya. Kecenderungan itu dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya,
factor ideologis, sepesialisasi ilmu, kecenderungan madhhab, dan lain-lain.
Tafsi>r
al-Qur’a>n al-‘Adhi>m ialah salah satu tafsir yang tidak lepas dari pengaruh faktor-faktor
tersebut. Di antara kecenderungan dalam kitab Tafsi>r al-Qur’a>n
al-‘Adhi>m yang bisa pemakalah paparkan ialah kecenderungan teologi dan
fikih.
a.
Kecenderungan dalam Fikih
Dalam
kitab-kitab sejarah yang mengkisahkan Ibnu Kathi>r selalu dinisbatkan pada
madhhab al-Sha>fi’i>, hal ini sudah menunjukkan bahwa pada hakikatnya ia
bermadhhabkan al-Sha>fi’i>. Meski pada hakikatnya ia bermadhhabkan
al-Sha>fi’i>, namun ia tidak terlalu fanatik pada pendapat
al-Sha>fi’i> sendiri.
Bagi pembaca
kitab Tafsi>r
al-Qur’a>n al-‘Adhi>m akan menumukan dua hal dalam masalah fikih, yaitu:
1)
Dalam kitab ini tidak terlalu panjang lebar membahas
masalah fikih, akan tetapi ia hanya menjelaskan dengan sangat ringkas, bahkan
membaca akan merasakan bahwa kitab ini sangat minim dalam keterang fikih dan
harus membaca dari kitab fikih. Sebagai contoh saat menafsirkan surah
al-Baqarah ayat 11
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ
قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
وقد اختلف العلماء في قتل الزنديق إذا أظهر الكفر هل
يستتاب أم لا. أو يفرق بين أن يكون داعية أم لا أو يتكرر منه ارتداده أم لا أو
يكون إسلامه ورجوعه من تلقاء نفسه أو بعد أن ظهر عليه؟ على أقوال موضع بسطها
وتقريرها وعزوها كتاب الأحكام.[20]
2)
Ibnu Kathi>r tampak tidak fanatik pada madhhab Imam
al-Sha>fi’i>. Sebagai bukti bahwa ia tidak fanatik dalam bermadhhan
ialah, kerkadang dalam penafsiran ayat-ayat hukum ia hanya mencantumkan beragam
pendapat tanpa ada yang di-tarji>h} dan yang kedua ia men-tarji>h}
namun tidak menggunakan dasar dalil yang lebih kuat menurutnya tanpa melihat
madhhab yang ia anut. Sebagai contoh firman Allah surah al-Baqarah ayat 144.
مسألة: وقد استدل المالكية بهذه الآية على أن المصلي
ينظر أمامه لا إلى موضع سجوده كما ذهب إليه الشافعي وأحمد وأبو حنيفة، قال
المالكية لقوله: { فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ } فلو نظر إلى
موضع سجوده لاحتاج أن يتكلف ذلك بنوع من الانحناء وهو ينافي كمال القيام. وقال
بعضهم: ينظر المصلي في قيامه إلى صدره. وقال شريك القاضي: ينظر في حال قيامه إلى
موضع سجوده كما قال جمهور الجماعة، لأنه أبلغ في الخضوع وآكد في الخشوع وقد ورد به
الحديث، وأما في حال ركوعه فإلى موضع قدميه، وفي حال سجوده إلى موضع أنفه وفي حال
قعوده إلى حجره.[21]
Contoh di
atas, Ibnu Kathi>r hanya mencantumkan pendapat ulama tanpa di-tarhi>h}.
Adapun contoh yang ia tarji>h} adalah firman Allah surah
al-Ma>diah ayat 6
وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
مرتين مرتين إلى المرفقين، ثم مسح
بيديه، فأقبل بهما وأدبر، بدأ بمقدم رأسه ثم ذهب بهما إلى قفاه، ثم ردهما حتى رجع
إلى المكان الذي بدأ منه، ثم غسل رجليه.
وفي حديث عبد خير، عن علي في صفة
وضوء رسول الله صلى الله عليه وسلم نحو
هذا، وروى أبو داود، عن معاوية والمقدام بن معد يكرب، في صفة وضوء رسول الله صلى
الله عليه وسلم مثله.
ففي هذه الأحاديث دلالة لمن ذهب
إلى وجوب تكميل مسح جميع الرأس، كما هو مذهب الإمام مالك وأحمد بن حنبل، لا سيما
على قول من زعم أنها خرجت مخرج البيان لما أجمل في القرآن.
وقد ذهب الحنفية إلى وجوب مسح ربع
الرأس، وهو مقدار الناصية.
وذهب أصحابنا إلى أنه إنما يجب ما يطلق عليه اسم مسح،
لا يتقدر ذلك بحدٍّ، بل لو مسح بعض شعره من رأسه أجزأه.
ونحن نقول بذلك، وأنه يقع عن الموقع كما وردت بذلك
أحاديث كثيرة، وأنه كان يمسح على العمامة وعلى الخفين، فهذا أولى، وليس لكم فيه دلالة على جواز الاقتصار
على مسح الناصية أو بعض الرأس من غير تكميل على العمامة، والله أعلم.[22]
b.
Kecenderungan dalam Teologi
Nampak jelas
dari tafsir karya Ibnu Kathi>r bahwa ia menganut faham Ahlussunnah.
Hal ini bisa dilihat saat Ibnu Kathi>r menafsirkan ayat-ayat yang
bersangutan dengan kaidah. Di situ Ibnu Kathi>r menentang
pendapat-pentadapat golongan lain. Adapun sebagaian golongan yang ia tentang
ialah:
1)
Khawa>rij
Khawa>rij ialah
sekte yang keluar dan tidak taat pada imam yang hak. Yang dimaksud dengan Khawa>rij
disini adalah keluar dari kepemimpian Ali bin Abi> T{a>lib setelah
terjadinya tah}kim. Bisa dicontohkan penentang Ibnu Kathi>r pada sekte ini
saat ia menafsirkan surah al-Baqarah ayat 27
وقال ابن أبي حاتم: حُدّثتُ عن
إسحاق بن سليمان، عن أبي سِنان، عن عمرو بن مرة، عن مصعب بن سعد، عن سعد { يُضِلُّ
بِهِ كَثِيرًا } يعني الخوارج.
وقال شعبة، عن عمرو بن مرة، عن مصعب بن سعد، قال: سألت أبي فقلت: قوله
تعالى: { الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ } إلى آخر
الآية، فقال: هم الحرورية. وهذا الإسناد إن صح عن سعد بن أبي وقاص، رضي الله عنه،
فهو تفسير على المعنى، لا أن الآية أريد منها التنصيص على الخوارج، الذين خرجوا
على عليٍّ بالنهروان، فإن أولئك لم يكونوا حال نزول الآية، وإنما هم داخلون بوصفهم
فيها مع من دخل؛ لأنهم سموا خوارج لخروجهم على طاعة الإمام والقيام بشرائع
الإسلام.[23]
2)
Rawa>fid}
Golong yang
mencintai Ali bin Abi> T{a>lib dengan berlebihan, mengkafir-kafirkan
sahabat lain, menolak kekhalifahan sahabat lain, beranggapan bahwa Ali yang
belih berhak menjadi khalifah setelah Nabi Muhammad, dan menganggap Abu>
Bakar, Umar, dan Uthma>n adalah orang yang merepuk kekuasan Ali. Penentangan
Ibnu Kathi>r terhadap golongan ini nampak jelas saat ia menafsirkan surah
al-Fath} ayat 29.
فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ
لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في
رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ
الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. والأحاديث في
فضائل الصحابة والنهي عن التعرض لهم بمساءة كثيرة، ويكفيهم ثناء الله عليهم، ورضاه
عنهم.[24]
3)
Mu’tazilah
Dalam kitab
ini paling banyak menentang pendapat-pendapat sekte Mu’tazilah. Ia menjelasakan
dengan sangat lengkap atas tentangan pada sekte ini. Di antara penafsiran Ibnu
Kathi>r saat menentang pendapat sekte Mu’tazilah ialah firman Allah surah
al-An’a>m ayat 103
لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ
وقال آخرون، من المعتزلة بمقتضى ما
فهموه من الآية: إنه لا يرى في الدنيا ولا في الآخرة. فخالفوا أهل السنة والجماعة
في ذلك، مع ما ارتكبوه من الجهل بما دل عليه كتاب الله وسنة رسوله. أما الكتاب،
فقوله تعالى: { وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ . إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ }
[القيامة: 22، 23]، وقال تعالى عن الكافرين: { كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ
يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ } [المطففين: 15].
قال الإمام الشافعي: فدل هذا على
أن المؤمنين لا يُحْجَبُون عنه تبارك وتعالى.
وأما السنة، فقد تواترت الأخبار عن أبي سعيد، وأبي هريرة، وأنس، وجرير،
وصُهَيْب، وبلال، وغير واحد من الصحابة عن النبي صلى الله عليه وسلم: أن المؤمنين
يرون الله في الدار الآخرة في العرصات، وفي روضات الجنات، جعلنا الله تعالى منهم
بمنه وكرمه آمين.[25]
5-
Kelebihan dan Kekurangan Tafsi>r al-Qur’a>n
al-‘Adhi>m
Setiap karya
tulis pasti memiliki kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dengan karya
tulis lainnya, terlebih pada adab ke-20 yang mana karya tulis ilmiyah sudah
menyebar dan menjadi hal yang lumrah. Perlu diketahui, bahwa kelebihan dan
kekurangan itu sangat objektif, akan hal yang baik bagi sesorang belum tentu
baik bagi orang lain, begitu pula hal yang dipandang kurang oleh seseorang
belum tentu kurang bagi orang lain. Kelebih dan kekurangan prihal tafsir Ibnu
Kathi>r ini hanyalah sebatas pandang dari pemakalah saja yang tidak bersifat
paten.
Setelah
pemakalah mengkaji kitab tafsir karya Ibnu Kathi>r, pemakalah menemukan
kelebihan dan kekurang dalam karya tulis tersebut. Di antara kelebihan dan
kekurang menurut pandangan pemakalah ada sebagaimana berikut:
a.
Kelebihan
1)
Dalam kitab tafsir karya Ibnu Kathi>r, ia lebih
memilih menafsirkan ayat al-Qur’a>n dengan ayat al-Qur’a>n yang lain,
jika tidak ada maka ia baru berpindah kepada hadi>th Nabi Muhammad, dan jika
tidak ditemukan barulah ia mengutip al-Atha>r baik dari sahabat Nabi
maupun tabi’i>n.
2)
Lebih berhati-hati dalam mengutip
riwayat-riwayat hadi>th sehingga sangat minim ditemukan hadi>th d}a’i>f
atau isra>iliya>t.
3)
Meski Ibnu Kathi>r bermadhhabkan al-Sha>fi’i>,
namun beliau tidak fanatik pada madhhabnya, menainkan saat ia men-tarji>h}
dari perbedaan argumen ia melihat dari sini kuatnya dalil yang dipakai, bukan
disebabkan fanatik pada golongan.
4)
Saat menafsirkan
ayat, Ibnu Kathi>r menggunakan bahasa yang ringan, sehingga mudah difahami
oleh semua kalangan yang bisa berbahasa Arab.
b.
Kekurangan
1)
Terkadang Ibnu Kathi>r mengulangi pembahasan yang
sudah pernah dibahas sebelumnya.
2)
Terkadang Ibnu Kathi>r tidak mengunggulkan pendapat
yang lebih unggul menurutnya. Hal ini bisa sembuat pembaca
memiliki gambaran kosong.
3)
Mencampur adukkan pendapat, sehingga pembaca bisa merasa
kebingungan.
C-
PENUTUP
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa Ibnu Kathi>r merancang karya
tafsirnya yang berjudul Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m dengan sistematikan sebagaiman barikut:
Referensi
Departemen Agama RI. Al-Qur’a>n
dan Terjemahnya. Bandung: CV Diponegoro, 2008.
Khid}ir ‘I<d Khid}ir
Muhammad. Al-Id}a>h wa al-Baya>n fi ‘Ulu>m al-Qur’a>n.
Kairo: Mujalla>d al-Arabi, 2010.
Qurshi (al), Abu al-Fida>’Ismail
bin Umar bin Kathir al-Sha>fi’i>. Tafsi>r al-Qur’a>n
al-‘Ad}i>m. Da>r T{ayyibah li al-Nashr wa al-Tauzi>’, 1999.
Ridlwan Nasir. Memahami
Perspektif dan Metodologi Tafsir Muqarin. Surabaya: Pascasarjana IAIN
Supel, t,t.
[1] Abu
al-Fida>’Ismail bin Umar bin Kathir al-Qurshi al-Sha>fi’i>, Tafsi>r
al-Qur’a>n al-‘Ad}i>m, (Da>r T{ayyibah li al-Nashr wa
al-Tauzi>’, 1999), 1/29.
[2] Ibid, 30.
[3] ‘I<d
Khid}ir Muhammad Khid}ir, Al-Id}a>h wa al-Baya>n fi ‘Ulu>m
al-Qur’a>n, (Kairo: Mujalla>d al-Arabi, 2010), 342.
[4] Abu
al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 34.
[5] Departemen
Agama RI, Al-Qur’a>n dan Terjemahnya, (Bandung: CV Diponegoro, 2008),
75.
[6] Ibid, 59.
[7] Abu
al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 33.
[8] Departemen
Agama RI, Al-Qur’a>n dan Terjemahnya, 95.
[9] Abu
al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 4/476.
[10] Ibid, 7/127.
[11] Ibid, 4/476
[12] Ibid, 7/53.
[13] Ridlwan
Nasir, Memahami Perspektif dan Metodologi Tafsir Muqarin, (Surabaya:
Pascasarjana IAIN Supel, t,t), 14-19.
[14]Abu
al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 1/173.
[15] Ibid, 1/455.
[16] Ibid, 1/185.
[17] Ridlwan
Nasir, Memahami Perspektif, 14-19.
[18] Abu
al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 2/314-315.
[19] Ridlwan
Nasir, Memahami Perspektif, 14-19.
[20] Abu
al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 1/180.
[21] Ibid, 1/461.
[22] Ibid, 3/50.
[24] Ibid, 7/362.