Jumat, 04 Juli 2014

Metode Tafsir Ibnu Kathir



METODE DAN CORAK TAFSI><R AL-QUR’A<N AL-‘ADHI<M
KARYA IBUN KATHI<R
By: Muhammad
A-      PENDAHULUAN
Mengkaji al-Qur’a>n memang tidak akan ada habisnya, melihat al-Qur’a>n bisa ditarik ulur di mana lokasi dan kapanpun waktunya. Oleh karena itu, mempelajari al-Qur’a>n tidak akan ada bosan-bosannya hingga akhir zaman. Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa dari kali perama al-Qur’a>n diturunkan pada Muhammad saw penjelasan (tafsir) al-Qur’a>n sudah mulai bermunculan kendatipun pada saat itu hanya Muhammad saw yang mempunyai wewenang dalam menjelaskan isi al-Qur’a>n itu.
Setelah Muhammad saw wafat turunlah pada masa sahabat, ta>bi’i>n, dan ta>bi’ ta>bi’i>n yang berusaha untuk mengartikan dan menjelaskan al-Qur’a>n pada semua umat Islam. Dari sini mulai bermunculan perbedaan argumentasi tafsir. Salah satu tokoh tafsir yang terkenal ialah Isma>il bin ‘Umar yang dikenal dengan julukan Ibnu Kathi>r. Kitab Tafsir karya Ibnu Kathi>r bisa dikatakan sebagai rujukan para mufassir setelahnya. Oleh karena itu, pemakalah menganggap penting untuk mengkaji tafsir tersebut.
Pada pertemuan kalin ini pemakalah akan menfokuskan kajian pada biografi, sestematikan, dan kecenderungan dalam penafsiran Ibnu Kathi>r yang disertai dengan concoh-contoh akurat dan setelah melalui peroses penelitian yang sangat mendalam.
B-       TAFSI<R AL-QUR’A<N AL-‘ADHI><M
1-      Riwayat Hidup dan Aktifitas Keilmuan Penulis Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
Nama lengkapnya adalah ‘Ima>duddin Abul Fida>’ Isma>i>l bin ‘Umar bin Kathi>r al-Qurashi> al-Bus}rawi> al-Dimashqi> al-Shafi’i> lebih dikenal dengan nama Ibnu Kathi>r. Ia lahir pada tahun 701 H di desa Majdal yang menjadi bagian dari kota Bas}rah. Pada usia 4 tahun, ayahnya meninggal sehingga kemudian Ibnu Kathi>r diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, ia pindah dan menetap di kota Damaskus bersama saudaranya yang bernama Abdulwahhab.[1]
Semenjak kecil Ibu Kathi>r disibukkan mencari ilmu. Ia tumbuh besar dengan mencintai al-Qur’a>n dan tafsir, menghafal hadi>th, mengetahui matan dan sanadnya, sejarah dan riwayatnya, fikih dan hukum-hukumnya, sejarah kehidupan Nabi Muhammad dan fenomena-fenomena yang terjadi pada saat itu, nah}wu, dan ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu, tidak heran jika Ibnu Kathi>r sudah hafal al-Qur’a>n di usia 11 tahun pada gurunya yang bernama Ibu Ghaila>n.[2]
Ibn Kathi>r tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, ia banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Ia juga menimba ilmu dari Isa bin Mut}’im, Ibnu Asha>kir, Ibn Shaira>zi, Ish}aq bin Yah}ya bin al-Amidi, Ibnu Zarra>d, al-H{afizh al-Dhahabi> serta Ibnu Taimiyah. Selain itu, ia juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian menikahkan Ibnu Katsir dengan putrinya yang bernama Zainab. Selain Damaskus, ia juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.
Ibu Kathi>r memiliki banyak karya tulis ilmiyah, di antara karya tulisnya yang sampai saat ini bisa kita nikmati ialah:
a.       Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
b.      Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Buku ini membahas tentang sejarah. Buku ini sering dijadikan rujukan para peneliti sejarah. Sumbernya begitu autentik. Karyanya ini berisikan berbagai tinjauan sejarah. Pertama, pemaparan tentang sejarah dan kisah nabi-nabi beserta umatnya di masa lalu. Kisah ini ditopang dengan dalil-dalil yang kuat, baik itu dari al-Qur’a>n maupun al-Hadi>th, juga pendapat-pendapat para mufassir, muhaddits dan sejarawan. Kedua, Ia menguraikan secara jelas mengenai bangsa Arab jaman jahiliyah, kemudian bangsa Arab ketika kedatangan Nabi dan perjalanan dakwah Nabi beserta para sahabatnya. Buku ini di akhiri dengan kisah Dazzal, juga ia ungkapkan mengenai tanda-tanda kiamat lainnya.
c.       Al-Takmi>l fi> Ma’rifah al-Thiqa>t wa al-D{u’afa>’ wa al-Maja>hi>l. Buku ini adalah rujukan dalam ilmu hadist serta untuk mengetahui jarh} wa ta’dil.
d.      Al-Si>rah al-Nabawiyah.
e.       Al-Musnad al-Shaikhain Abi> Bakar wa Umar.
f.        Shama>il al-Rasu>l wa Dala>il Nubuwwatih wa Fadha>ilih wa Khas}a>is}ih (di nukil dari kitab al-Bida>yah wa al-Niha>yah)
g.      Sharh} al-Bukha>ri> (tidak selesai)
h.      Khtis}a>r ‘Ulu>m al-H{adi>th li Ibn al-S}ala>h.
i.        Risa>lah al-Jiha>d.
j.        Mana>qib al-Sha>fi’i>.
Genap usia tujuh puluh empat tahun akhirnya ulama ini wafat, tepatnya pada hari Kamis, 26 Sya’ban 774 H. Ia di makamkan di pemakaman s}ufiyah Damaskus, di sisi makam gurunya Ibnu Taimiyah.
2-      Gambaran Umum Kitab Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
Tafsir Ibnu Kathi>r termasuk salah satu kitab tafsir ternama, sebab tidak jarang dari para mufassir yang datang setelah masa Ibnu Kathi>r menjadikan kitab ini sebagai bahan primer dalam pembuat tafsirnya. Lebih dari itu, ‘I<d Khid}ir Muhammad Khid}ir komentar tentang tasfir Ibnu Kathi>r ini dengan perkataannya:[3]
وتفسير ابن كثير من  أصح التفاسير عن النبى صلى الله عليه وسلم والصحابة والتابعين حيث يسرد الأيات التى وردت فى معنى هذه الأية  ويذكر الأحاديث وأقوال التابعين التى وردت فى معنى الأية.
“Tafsir Ibnu Kathi>r merupakan paling sah}ih}nya kitab-kitab tafsir dari Nabi Muhammad, sahabat, dan para tabi’in, sebab (dalam kitab ini) menyebutkan beberapa ayat yang bersangkutan maknanya dengan ayat yang ditafsirkannya serta mencantumkan hadi>th-hadi>th, perkataan sahabat dan tabi’in yang ada hubungan dengan ayat yang ditafsirkannya.”
Sebelum Ibnu Kathi>r menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n, ia terlebih dahulu menjelaskan pentingnya belajar dan mengajar makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’a>n:[4]
فالواجب على العلماء الكشف عن معاني كلام الله، وتفسير ذلك، وطلبه من مظانه، وتَعلُّم ذلك وتعليمه، كما قال تعالى: { وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ } [آل عمران: 187] ، وقال تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ لا خَلاقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ وَلا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ } [آل عمران: 77] .
فذم الله تعالى أهل الكتاب قبلنا بإعراضهم عن كتاب الله إليهم، وإقبالهم على الدنيا وجمعها، واشتغالهم بغير ما أمروا به من اتباع كتاب الله. فعلينا -أيها المسلمون-أن ننتهي عما ذمَّهم الله تعالى به، وأن نأتمر بما أمرنا به، من تَعَلُّم كتاب الله المنزل إلينا وتعليمه، وتفهمه وتفهيمه، قال الله تعالى: { أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نزلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ * اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ } [الحديد: 16، 17]
  Merupakan sebuah kewajiban bagi ulama untuk menjelaskan makna-makna firman Allah, menafsirinya, mempelajari dan mengarkannya, sebagaiman firman Allah (Dan ingatlah, ketika Allah Mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab yaitu, ‘Handaklah kamu benar-benar menerangkannya kepada manusia, dan janganlah kamu menymbunuikannya, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka itu seburuk-buruk jual beli yang mereka lakukan.[5]) Dan firman Allah (Sesungguhnya orang-orang yang memperjual belikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa merekam tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.[6]) Oleh karena itu, Allah menghina umat ahli kitab terdahulu yang menolak kitab Allah, lebih memilih dunia dan mengumpulkan dunia serta menyibukkan diri terhadap sesuatu yang tidak diperintahkan daripada yang diperintahkan Allah. Maka diwajibkan bagi kita sebagai orang-orang Islam untuk mengakhiri hinaan dari Allah dengan cara mengikuti perintah yang telah diperintahkannya seperti mempelajari kitab Allah yang telah diturunknan pada kita dan mengajarkannya, memahaminya dan memberikan pemahaman tentangnya.”
Setelah menjelaskan pentingnya belajar dan mengajarkan tafsir al-Qur’a>n. Ibnu Kathi>r menerangkkan sumber penafsiran al-Qur’a>n yang paling baik. Ia berkata:[7]
فإن قال قائل: فما أحسن طرق التفسير؟فالجواب: إن أصح الطرق في ذلك أن يُفَسَّر القرآن بالقرآن، فما أُجْمِل في مكان فإنه قد فُسِّر في موضع آخر، فإن أعياك ذلك فعليك بالسنة فإنها شارحة للقرآن وموضحة له، بل قد قال الإمام أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعي، رحمه الله: كل ما حكم به رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو مما فهمه من القرآن. قال الله تعالى: { إِنَّا أَنزلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا } [ النساء: 105]
“Jika ada yang bertanya: ‘Apakah sumber penafsiran al-Qur’a>n yang paling baik?’ Maka jawabnya: ‘Paling baiknya sumber penafsiran ialah menafsirkan al-Qur’a>n dengan al-Qur’a>n, karena terkadang dalam satu ayat menjelaskan secara global, namun pada ayat lain menjelaskan secara detail. Jika hal merasa kesulitan dengan hal demikian, maka bagi mufassir hal menafsirkan dengan hadi>th Nabi Muhammad, sebab hadi>th Nabi Muhammad menjelaskan al-Qur’a>n. Bahkan Abu> Abdullah Muhammad bin Idri>s al-Shafi’I berkarta: setiap sesuatu yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad merupakan pemahaman dari al-Qur’a>n. Allah berfirman (Sungguh, Kami telah Menurunkan Kitab kepadamu membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah Diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang orang yang tidak bersalah, karena membela orang yang berkhianat.[8]).”

3-      Sistematika dan Metode Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
a.       Sistematika
Sebelum memulai menafsirkan masing-masing ayat di dalam suatu surat, Ibnu Kathi>r memulainya dengan pengklasifikasian surat, apakah ia makkiyah atau madaniyah. Ini dapat dilihat pada contoh berikut:[9]
تفسير سورة إبراهيم عليه السلام وهي مكية.
“Tafsir surah Ibrahim, ayat ini makkiyah.”
Setelah menjelaskan makky dan madani, Ibnu Kathi>r mulai mencantumkan fadilah surat yang berdasarkan dari hadi>th, jika memang ada hadi>th yang menjelaskannya seperti:[10]
الليث الهمداني قالا حدثنا موسى بن مسعود، حدثنا عبد الرحمن بن أبي بكر المليكي، عن زرارة بن مصعب، عن أبي سلمة، عن أبي هُرَيرة، رضي الله عنه، قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: "من قرأ آية الكرسي وأول حم المؤمن، عُصِم ذلك اليوم من كل سوء".
Setelah itu, barulah Ibnu Kathi>r mencantumkan ayat-ayat yang hendak ditafsirkannya, baik penafsiran tersebut melalui ayat-ayat al-Qur’a>n, hadi>th Nabi, atau riwayat-riwayat dari para sahabat dan tabi’in. sebagai contaoh saat penafsirkan surah Ibramin ayat 4:[11]
(وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)
 هذا من لطفه تعالى بخلقه: أنه يرسل إليهم رسلا  منهم بلغاتهم ليفهموا عنهم ما يريدون وما أرسلوا به إليهم، كما قال الإمام أحمد: حدثنا وكيع، عن عمر بن ذر قال: قال مجاهد: عن أبي ذر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "لم يبعث الله، عز وجل، نبيا إلا بلغة قومه".
Tidak lupa dalam penafsirannya mencantumkan sebab turunnya ayat tersebut jika memang ada, sebab Ibnu Kathi>r termasuk salah satu tokoh tafsir yang menganggap sebab turunnya ayat merupakan hal yang penting dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n. Sebagai contoh:[12]
قال السدي: إن أناسا من قريش اجتمعوا فيهم: أبو جهل بن هشام والعاص بن وائل، والأسود بن المطلب والأسود بن عبد يغوث في نفر من مشيخة قريش، فقال بعضهم لبعض: انطلقوا بنا إلى أبي طالب فلنكلمه فيه، فلينصفنا منه فليكف عن شتم آلهتنا وندعه وإلهه الذي يعبده...
b.      Metode
Beberapa hal penting untuk dicermati dalam mengenal sebuah karya tafsir yaitu, metode dan kecenderungan/aliran. Dalam hal metode sebuah katib tafsir dapat dilihat dari beberapa aspek yang meliputi sumber penafsiran, cara penjelasan, keluasan penafsiran, dan sasaran serta tartib ayat. Sementara kecenderungan sebuah kitab tafsir dapat dilihat dari arah yang menjadi tendensi mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n.[13] dengan beberapa variable tersebut Tafsi>r Ibnu Kathi>r akan diindentifikasikan.
1)        Sumber Penafsiran
Dari mukadimah kitab Ibnu Kathi>r yang telah pemakalah sajikan di atas, kita bisa mengetahui bahwa sumber penafsiran yang digunakan oleh Ibnu Kathi>r ada 3 macam. Pertama memafsirkan ayat al-Qur’a>n dengan ayat al-Qur’a>n yang lain. Sebagai contoh firman Allah surah al-Baqarah ayat 6:[14]
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ 
يقول تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا } أي: غَطوا الحق وستروه، وقد كتب الله تعالى عليهم ذلك، سواء عليهم إنذارك وعدمه، فإنهم لا يؤمنون بما جئتهم به، كما قال تعالى: { إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ * وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ } [يونس: 96، 97] وقال في حق المعاندين من أهل الكتاب: { وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ }{ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ } [الرعد: 40]، و { إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ }[هود: 12].
Kedua menafsrikan al-Qur’a>n dengan hadi>th Nabi Muhammad. Seperti contoh firman Allah surah al-Baqarah ayat 143.[15]
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
قال الإمام أحمد أيضًا: حدثنا أبو معاوية، حدثنا الأعمش، عن أبي صالح، عن أبي سعيد الخدري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "يجيء النبي يوم القيامة ومعه الرجل والنبي ومعه الرجلان وأكثر من ذلك فيدعى قومه، فيقال لهم  هل بلغكم هذا؟ فيقولون: لا. فيقال له: هل بلغت قومك؟ فيقول: نعم. فيقال له من يشهد لك؟ فيقول: محمد وأمته فيدعى بمحمد وأمته، فيقال لهم: هل بلغ هذا قومه؟ فيقولون: نعم. فيقال: وما علمكم؟ فيقولون: جاءنا نبينا صلى الله عليه وسلم فأخبرنا أن الرسل قد بلغوا" فذلك قوله عز وجل: { وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا } قال: "عدل.
Ketiga menafsirkan ayat al-Qur’a>n dengan menggunakan al-Atha>r (perkataan sabahat atau tabi’in). Seperti contoh firman Allah surah al-Baqarah ayat 16.[16]
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
قال السدي في تفسيره، عن أبي مالك وعن أبي صالح، عن ابن عباس، وعن مُرّة، عن ابن مسعود، وعن ناس من الصحابة: { أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى } قال: أخذوا الضلالة وتركوا الهدى.
Dari paparan dan ulasan di atas, maka pemakalah bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa sember penafsiran yang digunakan oleh Ibnu Kathi>r dalam kitabnya Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m adalah al-Tafsi>r bi al-Ma’thu>r pendapat ini  pemakalah ini juga senada dengan mayoritas pengamat tafsir. Namun hal ini tidak menafikan sebagain tokoh yang menyatakan bahwa kitab ini tidak termasuk al-Tafsi>r bi al-Ma’thu>r.
2)        Cara Penjelasan
Ada 2 maca metode dalam penjelasan. Pertama, metode baya>ni>, penafsiran dengan memberikan keterangan secara deskriptif, tanpa membandingkan riwayat atau pendapat dengan tanpa men-tarji>h} antara sumbur. Kedua, metode muqa>rin, membandingkan ayat dengan ayat yang berbicara dalam masalah yang sama, ayat dengan hadi>th, pendapat mufassir dengan mufassir lain, dengan menonjolkan segi-segi perbedaan.[17] Dari sisi ini, penafsiran Ibnu Kathi>r masuk dalam katagori metode komparasi kendati tidak semuanya ia tarji>h}, semisal pada surah al-Nisa>’ 43
أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ
واختلف المفسرون والأئمة في معنى ذلك، على قولين:
أحدهما: "أن ذلك كناية عن الجماع؛ لقوله { وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ } [البقرة: 237] وقال تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا } [الأحزاب: 49].
قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبو سعيد الأشج، حدثنا وَكِيع، عن سفيان، عن أبي إسحاق، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس في قوله: { أَوْ لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ } قال: الجماع. ورُوي عن علي، وأبيّ بن كعب، ومجاهد، وطاوس، والحسن، وعُبَيد بن عمير، وسعيد بن جبير، والشَّعْبي، وقتادة، ومقاتل بن حيَّان -نحوُ ذلك.
وقال آخرون: عنى الله بذلك كل لمس بيد كان أو بغيرها من أعضاء الإنسان، وأوجب الوضوء على كل من مس بشيء من جسده شيئا من جسدها مفضيًا إليه. وقد رواه من طرق متعددة عن ابن مسعود بمثله. وروي من حديث الأعمش، عن إبراهيم، عن أبي عبيدة، عن عبد الله بن مسعود قال: القبلة من المس، وفيها الوضوء.
وقال: حدثني يونس، أخبرنا ابن وهب، أخبرني عُبَيد الله بن عمر، عن نافع: أن ابن عمر كان يتوضأ من قبلة المرأة، ويرى (2) فيها الوضوء، ويقول: هي من اللماس.
وروى ابن أبي حاتم وابن جرير أيضا من طريق شعبة، عن مخارق، عن طارق، عن عبد الله قال: اللمس ما دون الجماع.
ثم قال ابن أبي حاتم: ورُوي عن ابن عمر، وعبيدة، وأبي عثمان النَّهْدي وأبي عبيدة -يعني ابن عبد الله بن مسعود-وعامر الشَّعْبي، وثابت بن الحجَّاج، وإبراهيم النَّخَعي، وزيد بن أسلم نحو ذلك.
قلت: وروى مالك، عن الزهري، عن سالم بن عبد الله بن عمر، عن أبيه أنه كان يقول: قبلة الرجل امرأته وجَسَّه بيده من الملامسة، فمن قَبّل امرأته أو جسها بيده، فعليه الوضوء.[18]
3)        Sasaran dan Tartib Ayat yang Ditafsirkan
Ada tiga pilihan metode bagi seorang mufassir untuk menyajikan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’a>n. Pertama, metode tah}lili>, menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n secara urut dan tertib sebagaimana dalam mus}h}af. Kedua, metode nuzuli> menafsirkan ayat-ayat al-Qur’a>n secara urut dan tertib sesuai dengan urutan turunnya ayat al-Qur’a>n. Ketiga, dengan metode maud}u’i>.[19] Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m dari sisi ini, menafsirkan al-Qur’a>n secara berurutan dari awal surah al-Fatih}ah hingga akhir surah al-Na>s. Keyataan ini , mengkatagorikan metode yang digunakan Ibnu Kathi>r adalah metode tah}lili>.
4)        Keluasan Penjelasan
Buku-buku tafsir yang telah ditulis oleh para ulama sangat beragam dalam sudut keluasan penafsirannya. Ada yang pembahasan tafsirnya panjang lebar (tafs}i>li>) ada yang ringkas (ijma>li>). Adapun kitab Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m tergolong dalam katagori tafsir dengan metode tafs}i>li.
4-      Kecenderungan Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
Setiap mufassir memiliki sentuhan berbeda dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’a>n. Sentuhan-sentuhan berbeda akan berdampak pada produk-produk penafsirannya. Sehingga pembaca karya tafsir akan merasakan aroma kecenderungan mufassir dalam karya tafsirnya. Kecenderungan itu dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya, factor ideologis, sepesialisasi ilmu, kecenderungan madhhab, dan lain-lain.
Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m ialah salah satu tafsir yang tidak lepas dari pengaruh faktor-faktor tersebut. Di antara kecenderungan dalam kitab Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m yang bisa pemakalah paparkan ialah kecenderungan teologi dan fikih.
a.       Kecenderungan dalam Fikih
Dalam kitab-kitab sejarah yang mengkisahkan Ibnu Kathi>r selalu dinisbatkan pada madhhab al-Sha>fi’i>, hal ini sudah menunjukkan bahwa pada hakikatnya ia bermadhhabkan al-Sha>fi’i>. Meski pada hakikatnya ia bermadhhabkan al-Sha>fi’i>, namun ia tidak terlalu fanatik pada pendapat al-Sha>fi’i> sendiri.
Bagi pembaca kitab Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m akan menumukan dua hal dalam masalah fikih, yaitu:
1)      Dalam kitab ini tidak terlalu panjang lebar membahas masalah fikih, akan tetapi ia hanya menjelaskan dengan sangat ringkas, bahkan membaca akan merasakan bahwa kitab ini sangat minim dalam keterang fikih dan harus membaca dari kitab fikih. Sebagai contoh saat menafsirkan surah al-Baqarah ayat 11
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
وقد اختلف العلماء في قتل الزنديق إذا أظهر الكفر هل يستتاب أم لا. أو يفرق بين أن يكون داعية أم لا أو يتكرر منه ارتداده أم لا أو يكون إسلامه ورجوعه من تلقاء نفسه أو بعد أن ظهر عليه؟ على أقوال موضع بسطها وتقريرها وعزوها كتاب الأحكام.[20]
2)      Ibnu Kathi>r tampak tidak fanatik pada madhhab Imam al-Sha>fi’i>. Sebagai bukti bahwa ia tidak fanatik dalam bermadhhan ialah, kerkadang dalam penafsiran ayat-ayat hukum ia hanya mencantumkan beragam pendapat tanpa ada yang di-tarji>h} dan yang kedua ia men-tarji>h} namun tidak menggunakan dasar dalil yang lebih kuat menurutnya tanpa melihat madhhab yang ia anut. Sebagai contoh firman Allah surah al-Baqarah ayat 144.
مسألة: وقد استدل المالكية بهذه الآية على أن المصلي ينظر أمامه لا إلى موضع سجوده كما ذهب إليه الشافعي وأحمد وأبو حنيفة، قال المالكية لقوله: { فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ } فلو نظر إلى موضع سجوده لاحتاج أن يتكلف ذلك بنوع من الانحناء وهو ينافي كمال القيام. وقال بعضهم: ينظر المصلي في قيامه إلى صدره. وقال شريك القاضي: ينظر في حال قيامه إلى موضع سجوده كما قال جمهور الجماعة، لأنه أبلغ في الخضوع وآكد في الخشوع وقد ورد به الحديث، وأما في حال ركوعه فإلى موضع قدميه، وفي حال سجوده إلى موضع أنفه وفي حال قعوده إلى حجره.[21]
Contoh di atas, Ibnu Kathi>r hanya mencantumkan pendapat ulama tanpa di-tarhi>h}. Adapun contoh yang ia tarji>h} adalah firman Allah surah al-Ma>diah ayat 6
وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
مرتين مرتين إلى المرفقين، ثم مسح بيديه، فأقبل بهما وأدبر، بدأ بمقدم رأسه ثم ذهب بهما إلى قفاه، ثم ردهما حتى رجع إلى المكان الذي بدأ منه، ثم غسل رجليه.
وفي حديث عبد خير، عن علي في صفة وضوء رسول الله  صلى الله عليه وسلم نحو هذا، وروى أبو داود، عن معاوية والمقدام بن معد يكرب، في صفة وضوء رسول الله صلى الله عليه وسلم مثله.
ففي هذه الأحاديث دلالة لمن ذهب إلى وجوب تكميل مسح جميع الرأس، كما هو مذهب الإمام مالك وأحمد بن حنبل، لا سيما على قول من زعم أنها خرجت مخرج البيان لما أجمل في القرآن.
وقد ذهب الحنفية إلى وجوب مسح ربع الرأس، وهو مقدار الناصية.
وذهب أصحابنا إلى أنه إنما يجب ما يطلق عليه اسم مسح، لا يتقدر ذلك بحدٍّ، بل لو مسح بعض شعره من رأسه أجزأه.
ونحن نقول بذلك، وأنه يقع عن الموقع كما وردت بذلك أحاديث كثيرة، وأنه كان يمسح على العمامة وعلى الخفين، فهذا  أولى، وليس لكم فيه دلالة على جواز الاقتصار على مسح الناصية أو بعض الرأس من غير تكميل على العمامة، والله أعلم.[22]

b.      Kecenderungan dalam Teologi
Nampak jelas dari tafsir karya Ibnu Kathi>r bahwa ia menganut faham Ahlussunnah. Hal ini bisa dilihat saat Ibnu Kathi>r menafsirkan ayat-ayat yang bersangutan dengan kaidah. Di situ Ibnu Kathi>r menentang pendapat-pentadapat golongan lain. Adapun sebagaian golongan yang ia tentang ialah:
1)      Khawa>rij
Khawa>rij ialah sekte yang keluar dan tidak taat pada imam yang hak. Yang dimaksud dengan Khawa>rij disini adalah keluar dari kepemimpian Ali bin Abi> T{a>lib setelah terjadinya tah}kim. Bisa dicontohkan penentang Ibnu Kathi>r pada sekte ini saat ia menafsirkan surah al-Baqarah ayat 27
وقال ابن أبي حاتم: حُدّثتُ عن إسحاق بن سليمان، عن أبي سِنان، عن عمرو بن مرة، عن مصعب بن سعد، عن سعد { يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا } يعني الخوارج.
وقال شعبة، عن عمرو بن مرة، عن مصعب بن سعد، قال: سألت أبي فقلت: قوله تعالى: { الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ } إلى آخر الآية، فقال: هم الحرورية. وهذا الإسناد إن صح عن سعد بن أبي وقاص، رضي الله عنه، فهو تفسير على المعنى، لا أن الآية أريد منها التنصيص على الخوارج، الذين خرجوا على عليٍّ بالنهروان، فإن أولئك لم يكونوا حال نزول الآية، وإنما هم داخلون بوصفهم فيها مع من دخل؛ لأنهم سموا خوارج لخروجهم على طاعة الإمام والقيام بشرائع الإسلام.[23]
2)      Rawa>fid}
Golong yang mencintai Ali bin Abi> T{a>lib dengan berlebihan, mengkafir-kafirkan sahabat lain, menolak kekhalifahan sahabat lain, beranggapan bahwa Ali yang belih berhak menjadi khalifah setelah Nabi Muhammad, dan menganggap Abu> Bakar, Umar, dan Uthma>n adalah orang yang merepuk kekuasan Ali. Penentangan Ibnu Kathi>r terhadap golongan ini nampak jelas saat ia menafsirkan surah al-Fath} ayat 29.
فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ
ومن هذه الآية انتزع الإمام مالك -رحمه الله، في رواية عنه-بتكفير الروافض الذين يبغضون الصحابة، قال: لأنهم يغيظونهم، ومن غاظ الصحابة فهو كافر لهذه الآية. ووافقه طائفة من العلماء على ذلك. والأحاديث في فضائل الصحابة والنهي عن التعرض لهم بمساءة كثيرة، ويكفيهم ثناء الله عليهم، ورضاه عنهم.[24]
3)      Mu’tazilah
Dalam kitab ini paling banyak menentang pendapat-pendapat sekte Mu’tazilah. Ia menjelasakan dengan sangat lengkap atas tentangan pada sekte ini. Di antara penafsiran Ibnu Kathi>r saat menentang pendapat sekte Mu’tazilah ialah firman Allah surah al-An’a>m ayat 103
لا تُدْرِكُهُ الأبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارَ
وقال آخرون، من المعتزلة بمقتضى ما فهموه من الآية: إنه لا يرى في الدنيا ولا في الآخرة. فخالفوا أهل السنة والجماعة في ذلك، مع ما ارتكبوه من الجهل بما دل عليه كتاب الله وسنة رسوله. أما الكتاب، فقوله تعالى: { وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ . إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ } [القيامة: 22، 23]، وقال تعالى عن الكافرين: { كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ } [المطففين: 15].
قال الإمام الشافعي: فدل هذا على أن المؤمنين لا يُحْجَبُون عنه تبارك وتعالى.
وأما السنة، فقد تواترت الأخبار عن أبي سعيد، وأبي هريرة، وأنس، وجرير، وصُهَيْب، وبلال، وغير واحد من الصحابة عن النبي صلى الله عليه وسلم: أن المؤمنين يرون الله في الدار الآخرة في العرصات، وفي روضات الجنات، جعلنا الله تعالى منهم بمنه وكرمه آمين.[25]
5-      Kelebihan dan Kekurangan Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m
Setiap karya tulis pasti memiliki kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dengan karya tulis lainnya, terlebih pada adab ke-20 yang mana karya tulis ilmiyah sudah menyebar dan menjadi hal yang lumrah. Perlu diketahui, bahwa kelebihan dan kekurangan itu sangat objektif, akan hal yang baik bagi sesorang belum tentu baik bagi orang lain, begitu pula hal yang dipandang kurang oleh seseorang belum tentu kurang bagi orang lain. Kelebih dan kekurangan prihal tafsir Ibnu Kathi>r ini hanyalah sebatas pandang dari pemakalah saja yang tidak bersifat paten.
Setelah pemakalah mengkaji kitab tafsir karya Ibnu Kathi>r, pemakalah menemukan kelebihan dan kekurang dalam karya tulis tersebut. Di antara kelebihan dan kekurang menurut pandangan pemakalah ada sebagaimana berikut:
a.       Kelebihan
1)      Dalam kitab tafsir karya Ibnu Kathi>r, ia lebih memilih menafsirkan ayat al-Qur’a>n dengan ayat al-Qur’a>n yang lain, jika tidak ada maka ia baru berpindah kepada hadi>th Nabi Muhammad, dan jika tidak ditemukan barulah ia mengutip al-Atha>r baik dari sahabat Nabi maupun tabi’i>n.
2)      Lebih berhati-hati dalam mengutip riwayat-riwayat hadi>th sehingga sangat minim ditemukan hadi>th d}a’i>f atau isra>iliya>t.
3)      Meski Ibnu Kathi>r bermadhhabkan al-Sha>fi’i>, namun beliau tidak fanatik pada madhhabnya, menainkan saat ia men-tarji>h} dari perbedaan argumen ia melihat dari sini kuatnya dalil yang dipakai, bukan disebabkan fanatik pada golongan.
4)       Saat menafsirkan ayat, Ibnu Kathi>r menggunakan bahasa yang ringan, sehingga mudah difahami oleh semua kalangan yang bisa berbahasa Arab.
b.      Kekurangan
1)      Terkadang Ibnu Kathi>r mengulangi pembahasan yang sudah pernah dibahas sebelumnya.
2)      Terkadang Ibnu Kathi>r tidak mengunggulkan pendapat yang lebih unggul menurutnya. Hal ini bisa sembuat pembaca memiliki gambaran kosong.
3)      Mencampur adukkan pendapat, sehingga pembaca bisa merasa kebingungan.
C-       PENUTUP
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa Ibnu Kathi>r merancang karya tafsirnya yang berjudul Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Adhi>m dengan sistematikan sebagaiman barikut:
Text Box: Sumber Penafsiran: al-Ma’thu>r    
 











Referensi
Departemen Agama RI. Al-Qur’a>n dan Terjemahnya. Bandung: CV Diponegoro, 2008.
Khid}ir ‘I<d Khid}ir Muhammad. Al-Id}a>h wa al-Baya>n fi ‘Ulu>m al-Qur’a>n. Kairo: Mujalla>d al-Arabi, 2010.
Qurshi (al), Abu al-Fida>’Ismail bin Umar bin Kathir al-Sha>fi’i>. Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Ad}i>m. Da>r T{ayyibah li al-Nashr wa al-Tauzi>’, 1999.
Ridlwan Nasir. Memahami Perspektif dan Metodologi Tafsir Muqarin. Surabaya: Pascasarjana IAIN Supel, t,t.


[1] Abu al-Fida>’Ismail bin Umar bin Kathir al-Qurshi al-Sha>fi’i>, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Ad}i>m, (Da>r T{ayyibah li al-Nashr wa al-Tauzi>’, 1999), 1/29.
[2] Ibid, 30.
[3] ‘I<d Khid}ir Muhammad Khid}ir, Al-Id}a>h wa al-Baya>n fi ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Kairo: Mujalla>d al-Arabi, 2010), 342.
[4] Abu al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 34.
[5] Departemen Agama RI, Al-Qur’a>n dan Terjemahnya, (Bandung: CV Diponegoro, 2008), 75.
[6] Ibid, 59.
[7] Abu al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 33.
[8] Departemen Agama RI, Al-Qur’a>n dan Terjemahnya, 95.
[9] Abu al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 4/476.
[10] Ibid, 7/127.
[11] Ibid, 4/476
[12] Ibid, 7/53.
[13] Ridlwan Nasir, Memahami Perspektif dan Metodologi Tafsir Muqarin, (Surabaya: Pascasarjana IAIN Supel, t,t), 14-19.
[14]Abu al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 1/173.
[15] Ibid, 1/455.
[16] Ibid, 1/185.
[17] Ridlwan Nasir, Memahami Perspektif, 14-19.
[18] Abu al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 2/314-315.
[19] Ridlwan Nasir, Memahami Perspektif, 14-19.
[20] Abu al-Fida>’Ismail, Tafsi>r al-Qur’a>n, 1/180.
[21] Ibid, 1/461.
[22] Ibid, 3/50.
[23] Ibid, 1/209.
[24] Ibid, 7/362.
[25] Ibid, 3/310.